CAP TIKUS dan COVID-19

Sejak menculnya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ini, banyak muncul berbagai penangkal atau semacam obat-obatan yang di yakini dapat mencegah dan mengobati covid-19 bahkan memutus rantai penyebaran covid-19 ini, seperti yang beredar salah satunya adalah captikus.

Cap tikus saat ini mulai di buat menjadi bahan baku sebagai penganti hand sanitizer (anti bakteri) yang mulai langkah bahkan habis di tempat-tempat penjualan. Cap tikus (alkohol) ini telah terbukti ampuh berdasarkan ilmu kedokteran dan telah sering digunakan langsung oleh masyarakat pada umumnya untuk menjadi obat penyakit pada sakit tertentu.

Covid-19 ini membuat orang-orang berburuh hand sanitizer atau sejenisnya hingga membuat bahan ini langkah bahkan habis di tempat-tempat penjualan. Cap tikus yang merupakan minuman keras (miras) tradisional hasil produksi masyarakat sulawesi utara khususnya di produksi oleh sebagian besar masyarakat minahasa selatan ini, saat ini di buruh oleh pemerintah dan para ahli kesehatan untuk di jadikan bahan baku pengganti hand sanitizer.

Pemerintah sulawesi utara melalui dinas terkait berdasarkan info dari media-media, turun langsung untuk menjemput cap tikus ini dari petani-petani yang ada. Dua kampus terbesar di sulawesi utara yakni Universitas Negeri Manado dan Universitas Sam Ratualangi langsung melakukan eksperimen untuk membuat bahan pengganti hand sanitizer dengan mengoptimalkan kearifan lokal yang ada ditanah minahasa ini (cap tikus). Jauh dari kita semua sebagai masyarakat yang saat ini sedang menghadapi wabah pandemi ini, penulis sangat mengapresiasi atas tindakan pemerintah dan para akademisi untuk menggunakan cap tikus sebagai bahan utama untuk  membuat hand sanitizer.

cap tikus yang di produksi oleh petani minahasa selatan ini sebelumnya dan bahkan sampai saat ini ada dalam pengawasan oleh pemerintah dan pihak kepolisian dalam pengedarannya (distribusi), dalam peredarannya di dalam masyarakat (konsumen) tentu dari aspek positif untuk di konsumsi, yaitu pada hakikatnya tubuh kita membutukan kandungan alkohol, namum dikonsumsi secara berlebihan menjadi dampak negatif dari cap tikus ini, singkatnya bahwa cap tikus dari dampak positif dan negatif tergantung dari cara kita sendiri untuk memanfaatkannya, parahnya apalagi berbuat kasus setelah mabuk mengkonsumsi cap tikus ini.

maka dari itu pihak pemerintah dan kepolisian selalu dengan ketat mengawasi pendistribusian cap tikus ini, yang mayoritas di produksi oleh petani masyarakat minahasa selatan. meski pada beberapa waktu yang lalu pemerintah daerah telah melegalkan (legal bersyarat) cap tikus ini dan membuat produk cap tikus berlebel untuk menjadi ole-ole khas daerah, serta sejak dulu telah ada peraturan daerah yang mengatur, akan tetapi hal-hal tersebut tidak dapat menjamin stabilitas harga terhadap petani, terlebih saat ini harga jual cap tikus dari tangan petani anjlok dari harga normalnya (entah dimana masalahnya).

Puluhan ribu masyarakat sejak dahulu bergantung hidup dari pekerjaan memproduksi minuman tradisional di tanah minahasa ini. banyak sarjana, pejabat, dan orang-orang hebat lainnya di daerah ini lahir dari keluarga petani cap tikus.

Sebuah Harapan besar dari petani agar mereka lebih lagi di perhatikan oleh pemerintah dalam memproduksi serta mendistribusi cap tikus ini, serta cap tikus ini diharapkan dapat di manfaatkan dengan baik oleh pemerintah kedepannya untuk menjadi sebuah produk lokal yang di kelola menjadi kebutuhan internasional, dalam hal ini di gunakan untuk kesehatan dalam dunia medis dan mungkin hal-hal lain yang boleh memanfaatkan produk ini.

Para petani berharap bahwa pemerintah daerah dengan sekreatif mungkin mengelolah ini agar lebih lagi menjadi bahan baku dalam ilmu kesehatan, terlebih dalam menghadapi Covid-19.

Harapan besar juga untuk kedepannya bahwa cap tikus dapat di gunakan sebaik mungkin, bukan hanya ketika menjadi pengganti bahan baku ketika menghadapi wabah pandemi covid-19. Akan tetapi terus di manfaatakn oleh pemerintah demi menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani cap tikus, serta membawah nama baik daerah tercinta.

Penulis tidak terlalu menggali manfaat kesehatan dari cap tikus ini serta manfaat lainnya, serta tidak terlalu spesifik menggali hubungan wabah Covid-19 ini dengan captikus. akan tetapi penulis yang merupakan juga bagian dari petani cap tikus (anak petani cap tikus), hanya memberikan pesan bahwa cap tikus sudah saatnya menjadi produk lokal yang akan go internasional untuk di gunakan di bidang kesehatan dan lain sebagainya.
(Semoga di baca oleh mereka yang memiliki otoritas)




Komentar